Genarasi Putih Biru
Terlihat seorang
anak kecil yang sedang bersedih hati tengah duduk di sebuah bangku Sekolah
Dasar (SD). Sambil menunduk perlahan anak itu meneteskan air matanya sedikit
demi sedikit. Kurang lebih 10 menit kemudian bel sekolah berbunyi, anak itu pun
pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, air matanya semakin deras mengalir. Ia mencoba menghapus air matanya namun entah mengapa rasanya ia tak bisa menghentikan aliran air matanya yang semakin deras. Dengan pelan dia melangkah masuk ke rumahnya.
“ Assalamualaikum.” ucapnya tersedu-sedu.
“ Waalaikumsalam, Siska kenapa kamu, Nak? ” tanya seorang perempuan tua (ibunya) yang berlari mengahampiri Siska.
Saat ibunya keluar, tangisan Siska pun semakin deras. Dengan cepat ibunya pun berlari dan memeluk anak tunggalnya itu. Sang ibu pun memeluk dan membelai rambut Siska dengan lembut sambil mencoba bertanya kenapa Siska sampai menangis seperti itu.
“ Nak, kenapa kamu sampai menangis seperti ini? ” tanya seorang ibu.
“ Bu, maafkan Siska! ” ucap Siska tersedu-sedu.
“ Maaf? Maaf kenapa, apa yang bisa membuat kamu menangis seperti ini? ” tanya ibunya bingung.
“ Maaf karena aku belum bisa membuat ayah dan ibu bangga padaku, ” jawab Siska.
“ Maksud kamu apa, Nak? Selama ini kamu sudah membuat kami bangga dengan prestasi yang sudah kamu cetak selama ini! ” ucap ibunya mencoba menenangkan Siska.
“ Ibu jangan marah ya?” tanya Siska pada ibunya.
“ Ya, ibu gak akan marah. ” jawab ibu tersenyum.
“ Nilai Ujian Nasional Siska rendah, Bu.” ucap Siska.
“ Memangnya nilai Ujian Nasional Siska berapa? ” tanya ibu.
“ Nilai Ujian Nasional Siska 25,75. Disekolah Siska termasuk rendah, Siska takut tidak bisa masuk ke SMP yang Siska mau. ” jawab Siska dengan sedih.
Suasana pun hening, namun Siska belum bisa berhenti manangis. Ibunya pun bingung, apa lagi yang harus ia katakan pada anaknya untuk bisa membuat anaknya itu berhenti menangis.
“ Lihat mata ibu, percayalah pada ibu kalau kamu akan bisa masuk SMP yang kamu mau. Akan ada banyak cara untuk memecahkan 1 masalah. Kamu ingat kan, kalau kamu juga ikut PMDK ke SMPN 2 Bangkalan. Berdoa saja semoga kamu bisa masuk SMPN 2 dengan PMDK itu. ” jelas ibunya sambil tersenyum.
Siska pun membalas senyuman manis ibunya itu. Siska adalah siswa SD kelas 6 yang sebentar lagi akan meneruskan sekolah ke SMP. Siska sangat ingin masuk ke SMPN 2 Bangkalan, karena sekolah itu dikenal sebagai salah satu sekolah favorit. Namun Siska sedih karena nilai ujiannya rendah, yang ia takutkan ia tidak bisa masuk ke SMPN 2 Bangkalan. Namun Siska ingat pembicaraan ibunya kalau ia juga ikut PMDK ke SMPN 2 Bangkalan. PMDK itulah harapan terakhirnya untuk bisa masuk SMPN 2 Bangkalan.
Keesokan harinya, Siska kembali bersekolah untuk mengetahui hasil dari PMDK miliknya. Dengan perasaan yang bercampur aduk dan jantung yang berdebar kencang. Siska bersabar menunggu pengumuman dari gurunya. Beberapa saat kemudian gurunya pun datang membawa selembaran kertas yang sepertinya berisi daftar nama-nama murid yang di terima PMDK ke SMPN 2 Bangkalan.
Saat kertas itu selesai di tempel di mading, Siska segera melihat isi kertas itu. Setelah melihat isi kertas itu ternyata nama Siska berada di urutan pertama. Siska kembali menangis namun tangisannya kali ini di ikuti dengan senyum bahagia yang terukir di bibirnya. Siska di terima di SMPN 2 Bangkalan. Siska pun segera pulang ke rumahnya dan memberitahukan kabar bahagia ini kepada ibunya.
“ Assalamualaikum. ” ucapnya dengan bahagia.
“ Waalaikumsalam. ” jawab ibu bingung.
“ Bu, lihat Siska membawa apa? ” tanya Siska dengan membawa selembar kertas.
“ Memangnya kamu membawa apa? ” tanya ibunya dengan penasaran.
“ Siska membawa kabar gembira. ” jawab Siska.
“ Kabar gembira itu apa, Nak? ” tanya ibu.
“ Siska di terima PMDK ke SMPN 2 Bangkalan, dengan urutan pertama.” jelas Siska dengan bahagia.
“ Alhamdulillah.” jawab ibu.
Tentu ibunya juga merasa sangat bahagia melihat anaknya bisa kembali tersenyum.
Mulai saat ini Siska telah resmi menjadi generasi baru SMPN 2 Bangkalan. Beberapa hari kemudian Siska menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan memakai seragam putih biru. Tiga hari menjalani MOS Siska lalui dengan baik. Saat pembagian kelas, Siska masuk kelas VII-D (kelas unggulan). Saat itu Siska masih satu bangku dengan teman SDnya yang bernama Dika. Saat itu juga wali kelasnya langsung merombak tempat duduknya.
Setelah tempat duduknya diatur, Siska duduk dengan seorang perempuan yang sepertinya juga pendiam seperti dia.
“ Hai... nama kamu siapa? ” tanya Siska kepada teman barunya itu.
“ Hai... nama aku Windy, kamu?.” jawab Windy dengan malu-malu.
“ Oh... nama aku Siska! ” jawab Siska tersenyum.
Mereka pun saling bersalaman sebagai tanda salam kenal. Saat pulang sekolah Windy memperkenalkan Siska kepada sahabatnya dari SD yang bernama Fina. Saat itu juga Fina pun memperkenalkan teman satu bangkunya yang bernama Ayu.
Sejak perkenalan itu, mereka menjadi sahabat yang kemana-mana selalu berempat. Ternyata nilai ujian Siska yang rendah tidak menghalanginya untuk terus belajar, dan Siska pun bisa membuktikan dengan dia bisa masuk ke kelas unggulan yaitu kelas VII-D. Dan Siska pun mendapat berkah yang lainnya yaitu tiga sahabatnya yang baik kepadanya.
Sesampainya di rumah, air matanya semakin deras mengalir. Ia mencoba menghapus air matanya namun entah mengapa rasanya ia tak bisa menghentikan aliran air matanya yang semakin deras. Dengan pelan dia melangkah masuk ke rumahnya.
“ Assalamualaikum.” ucapnya tersedu-sedu.
“ Waalaikumsalam, Siska kenapa kamu, Nak? ” tanya seorang perempuan tua (ibunya) yang berlari mengahampiri Siska.
Saat ibunya keluar, tangisan Siska pun semakin deras. Dengan cepat ibunya pun berlari dan memeluk anak tunggalnya itu. Sang ibu pun memeluk dan membelai rambut Siska dengan lembut sambil mencoba bertanya kenapa Siska sampai menangis seperti itu.
“ Nak, kenapa kamu sampai menangis seperti ini? ” tanya seorang ibu.
“ Bu, maafkan Siska! ” ucap Siska tersedu-sedu.
“ Maaf? Maaf kenapa, apa yang bisa membuat kamu menangis seperti ini? ” tanya ibunya bingung.
“ Maaf karena aku belum bisa membuat ayah dan ibu bangga padaku, ” jawab Siska.
“ Maksud kamu apa, Nak? Selama ini kamu sudah membuat kami bangga dengan prestasi yang sudah kamu cetak selama ini! ” ucap ibunya mencoba menenangkan Siska.
“ Ibu jangan marah ya?” tanya Siska pada ibunya.
“ Ya, ibu gak akan marah. ” jawab ibu tersenyum.
“ Nilai Ujian Nasional Siska rendah, Bu.” ucap Siska.
“ Memangnya nilai Ujian Nasional Siska berapa? ” tanya ibu.
“ Nilai Ujian Nasional Siska 25,75. Disekolah Siska termasuk rendah, Siska takut tidak bisa masuk ke SMP yang Siska mau. ” jawab Siska dengan sedih.
Suasana pun hening, namun Siska belum bisa berhenti manangis. Ibunya pun bingung, apa lagi yang harus ia katakan pada anaknya untuk bisa membuat anaknya itu berhenti menangis.
“ Lihat mata ibu, percayalah pada ibu kalau kamu akan bisa masuk SMP yang kamu mau. Akan ada banyak cara untuk memecahkan 1 masalah. Kamu ingat kan, kalau kamu juga ikut PMDK ke SMPN 2 Bangkalan. Berdoa saja semoga kamu bisa masuk SMPN 2 dengan PMDK itu. ” jelas ibunya sambil tersenyum.
Siska pun membalas senyuman manis ibunya itu. Siska adalah siswa SD kelas 6 yang sebentar lagi akan meneruskan sekolah ke SMP. Siska sangat ingin masuk ke SMPN 2 Bangkalan, karena sekolah itu dikenal sebagai salah satu sekolah favorit. Namun Siska sedih karena nilai ujiannya rendah, yang ia takutkan ia tidak bisa masuk ke SMPN 2 Bangkalan. Namun Siska ingat pembicaraan ibunya kalau ia juga ikut PMDK ke SMPN 2 Bangkalan. PMDK itulah harapan terakhirnya untuk bisa masuk SMPN 2 Bangkalan.
Keesokan harinya, Siska kembali bersekolah untuk mengetahui hasil dari PMDK miliknya. Dengan perasaan yang bercampur aduk dan jantung yang berdebar kencang. Siska bersabar menunggu pengumuman dari gurunya. Beberapa saat kemudian gurunya pun datang membawa selembaran kertas yang sepertinya berisi daftar nama-nama murid yang di terima PMDK ke SMPN 2 Bangkalan.
Saat kertas itu selesai di tempel di mading, Siska segera melihat isi kertas itu. Setelah melihat isi kertas itu ternyata nama Siska berada di urutan pertama. Siska kembali menangis namun tangisannya kali ini di ikuti dengan senyum bahagia yang terukir di bibirnya. Siska di terima di SMPN 2 Bangkalan. Siska pun segera pulang ke rumahnya dan memberitahukan kabar bahagia ini kepada ibunya.
“ Assalamualaikum. ” ucapnya dengan bahagia.
“ Waalaikumsalam. ” jawab ibu bingung.
“ Bu, lihat Siska membawa apa? ” tanya Siska dengan membawa selembar kertas.
“ Memangnya kamu membawa apa? ” tanya ibunya dengan penasaran.
“ Siska membawa kabar gembira. ” jawab Siska.
“ Kabar gembira itu apa, Nak? ” tanya ibu.
“ Siska di terima PMDK ke SMPN 2 Bangkalan, dengan urutan pertama.” jelas Siska dengan bahagia.
“ Alhamdulillah.” jawab ibu.
Tentu ibunya juga merasa sangat bahagia melihat anaknya bisa kembali tersenyum.
Mulai saat ini Siska telah resmi menjadi generasi baru SMPN 2 Bangkalan. Beberapa hari kemudian Siska menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan memakai seragam putih biru. Tiga hari menjalani MOS Siska lalui dengan baik. Saat pembagian kelas, Siska masuk kelas VII-D (kelas unggulan). Saat itu Siska masih satu bangku dengan teman SDnya yang bernama Dika. Saat itu juga wali kelasnya langsung merombak tempat duduknya.
Setelah tempat duduknya diatur, Siska duduk dengan seorang perempuan yang sepertinya juga pendiam seperti dia.
“ Hai... nama kamu siapa? ” tanya Siska kepada teman barunya itu.
“ Hai... nama aku Windy, kamu?.” jawab Windy dengan malu-malu.
“ Oh... nama aku Siska! ” jawab Siska tersenyum.
Mereka pun saling bersalaman sebagai tanda salam kenal. Saat pulang sekolah Windy memperkenalkan Siska kepada sahabatnya dari SD yang bernama Fina. Saat itu juga Fina pun memperkenalkan teman satu bangkunya yang bernama Ayu.
Sejak perkenalan itu, mereka menjadi sahabat yang kemana-mana selalu berempat. Ternyata nilai ujian Siska yang rendah tidak menghalanginya untuk terus belajar, dan Siska pun bisa membuktikan dengan dia bisa masuk ke kelas unggulan yaitu kelas VII-D. Dan Siska pun mendapat berkah yang lainnya yaitu tiga sahabatnya yang baik kepadanya.
Kerangka
Cerpen
I. Siska
duduk di bangku kelasnya.
a. Siska
sedang bersedih hati.
b. Siska
meneteskan air matanya.
II. Siska sampai di rumahnya.
a. Tangisan
Siska semakin deras.
b. Ibunya
mencoba menenangkannya.
c. Siska
berhenti menangis.
III.Siska kembali bersekolah.
a. Gurunya
mengumumkan hasil PMDK.
b. Siska
sangat bahagia.
c. Siska
diterima PMDK.
d. Nama
Siska berada di urutan pertama.
IV.Siska menjalankan MOS (Masa Orientasi
Siswa).
a. Siska
berkenalan teman sebangkunya.
b. Windy
memperkenalkan 2 temannya.
c. Siska
dan 3 teman barunya menjadi sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar